Sabtu, 04 Desember 2010

Bahaya Sebuah Kesuksesan

Kemenangan kemarin tidak memberikan jaminan kesuksesan besok. Kemenangan Napoleon yang terus-menerus akhirnya dihentikan di Waterloo; kesuksesan Hitler menyerang ke Timur dihentikan di Stalingrad; para juara olahraga tahu betul kemenangan yang bertubi-tubi akan ada akhirnya; bahkan salesman paling sukses pun tahu suatu hari dia tidak bisa menjual produknya sama sekali.

Sering kali suasana kemenangan bertubi-tubi memberikan kontribusi kepada faktor yang menuntun kepada kekalahan. Kepercayaan diri sepantasnya telah berkembang menjadi kesombongan, penghargaan yang sehat atas jabatan mengeras menjadi perpecahan dan persiapan yang hati-hati berbalik menjadi sikap tidak peduli dan sembarangan.

Yosua, Jendral yang sedang naik daun, tahu akan hal ini. Pasukannya sudah merasakan kehebatan akan kemenangan yang cukup panjang. Itu sebabnya di akhir hidupnya, Yosua mengingatkan para pemimpin Israel, “Bukankah TUHAN telah menghalau bangsa-bangsa besar dan kuat dari depanmu…” (23:9). Bahkan lebih jelas disebutkan di ayat 10, “…TUHAN, Allahmu, Dialah yang berperang bagi kamu…”.

Sepertinya tidak masuk akal bahwa kemenangan Israel yang begitu spektakuler tidak membuat mereka sadar bahwa semuanya itu merupakan pekerjaan Tuhan, membuat mereka tidak bergantung kepada kuasa ilahi di dalam kehidupan mereka.

Memang tentara yang penuh kemenangan dapat menjadi tidak hati-hati dan tim yang selalu menang lupa akan siapa yang membawa mereka kepada kesuksesan, tidak terkecuali Israel. Itu sebabnya Yosua menekankan, “..demi nyawamu, bertekunlah mengasihi TUHAN, Allahmu.” (23:11).

Kemenangan suatu pertempuran adalah satu hal tetapi menjaga kedamaian sama sekali merupakan hal lain. Sekalipun demikian prinsip untuk percaya, taat, dan mengasihi Tuhan berlaku bagi dua-duanya.

Pandangan Yosua yang jauh ke depan tentang kemenangan Israel membuat mereka tersungkur. Yoshua sadar bahwa masih ada musuh yang belum dikalahkan di antara mereka yang sangat ingin melihat kemenangan Israel berakhir. Dia mengingatkan kemungkinan yang tidak terpikirkan yaitu, “…mereka akan menjadi perangkap dan jerat bagimu, menjadi cambuk pada lambungmu dan duri di matamu,…” (23:13).

Yosua tidak meramalkan bahwa kemenangan tentara Israel akan mendadak menjadi ketidakmampuan atau para pemimpin yang begitu berpengalaman secara misterius kehilangan kemampuan strateginya. Sebenarnya dia ingin mengatakan sesuatu yang jauh lebih serius. Dia melihat jika para tentara meninggalkan Tuhan dan menjadi begitu yakin akan diri sendiri yang membuat mereka tidak lagi mengasihi dan menghormati TUHAN, mereka sebenarnya mulai berkompromi dan terperosok ke dalam ketidaktaatan yang menuju kepada kehancuran. Tanpa disadari kemenangan yang mereka raih ‘kemarin’ menjadi kekalahan esoknya.

Itu sebabnya mengertilah akan bahaya kesuksesan yang membawa kehancuran.

Oleh: Pdt. Dr. Harry Sudarma

Allah Turut Bekerja Bagi Mereka Yang Taat KepadaNya

Kebaktian Pendalaman Alkitab membahas tentang Nabi Yunus yang diutus Allah ke Niniwe untuk menobatkan warga Niniwe, tetapi Yunus melarikan diri ke Tarsis yang letaknya jauh dari Niniwe. Namun Allah itu mahakasih, rencana penyelamatan-Nya atas manusia berdosa tidak pernah gagal! Ke mana pun Yunus menghindar, Allah tetap mengejarnya. Meskipun Yunus harus ‘bayar harga’ melalui proses yang menyakitkan secara jasmani – dicampakkan ke laut, ditelan ikan besar, dan berada di dalam perut ikan selama tiga hari tiga malam – justru melalui proses itulah Yunus selamat dan menjadi utusan untuk keselamatan Niniwe.

Jika Allah memanggil kita untuk suatu pelayanan, janganlah kita menghindar karena Allah memiliki banyak cara untuk memperingatkan kita! Jika kita telah mengerti, hendaknya kita segera bertobat agar diselamatkan, walaupun untuk melayani Tuhan terkadang seolah keluar dari api (bdng 1 Kor. 3:15, “Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api.”).

Renungan kali ini tentang bagaimana Rasul Paulus dan Nabi Silas diutus dan taat kepada pimpinan Allah.

Kisah Rasul 16:6-10

“Mereka melintasi tanah Frigia dan tanah Galatia karena Roh Kudus mencegah mereka untuk memberitakan Injil di Asia. Dan setibanya di Misia mereka mencoba masuk ke daerah Bitinia tetapi Roh Yesus tidak mengizinkan mereka. Setelah melintasi Misia, mereka sampai di Troas. Pada malam harinya tampaklah oleh Paulus suatu penglihatan: ada seorang Makedonia berdiri di situ dan berseru kepadanya, katanya: ‘Menyeberanglah ke mari dan tolonglah kami!’ Setelah Paulus melihat penglihatan itu, segeralah kami mencari kesempatan untuk berangkat ke Makedonia karena dari penglihatan itu kami menarik kesimpulan bahwa Allah telah memanggil kami untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sana.”

Di sini kita melihat penampilan Allah Tritunggal: (1) Ayat 6: Roh Kudus adalah pribadi Allah; (2) Ayat 7: Roh Yesus adalah pribadi Allah Anak, yang adalah Firman Tuhan; (3)Ayat 9-10: Penglihatan menunjuk pada pribadi Allah Bapa yang adalah kasih.

Tentang penglihatan, kita dapat membandingkan kisah Musa di Keluaran 3 – 4 dengan Kisah Rasul 7:31-36. Musa di gunung Horeb mendapat penglihatan tentang nyala api yang keluar dari semak duri tetapi semak duri tersebut tidak terbakar. Saat itu Musa mendengar suara, “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub …AKU ADALAH AKU…” (Kel. 3:6,14). TUHAN yang begitu mengasihi Israel mengutus Musa menghadap Firaun untuk membawa Israel keluar dari Mesir tetapi Musa menolak dengan alasan takut menghadap Firaun, takut berhadapan dengan Israel, tidak fasih lidah, dan lain sebagainya. Walaupun Allah berjanji akan menyertainya, Musa tetap menolak sehingga bangkitlah murka Tuhan dan akhirnya Musa menurut.

Jadi penglihatan dari Paulus dan Silas bicara tentang penampilan pribadi Allah Bapa yang penuh kasih sehingga pengutusan mereka dilakukan dan dipimpin Allah Tritunggal atau Allah yang Esa.

Zaman sekarang banyak orang dengan mudahnya berkata: “Saya disuruh Roh Kudus mengatakan atau menyuruhmu berbuat ini atau itu…” Waspadalah! Allah adalah Esa! Periksalah Alkitab – Firman Allah – sebab kalau Roh Kudus yang menyuruh pasti cocok dengan apa yang tertulis dalam Alkitab! Jika kita mendengar seseorang berkata bahwa Roh Kudus bersuara kepadanya bahwa tahun, tanggal dan bulan sekian Tuhan akan datang, periksa apakah Firman Tuhan mengatakan tanggal kedatangan-Nya? Tidak ada yang tahu! Jadi ini pasti bukan dari Roh Kudus, karena Allah itu Esa. Jangan cepat percaya walaupun hal itu dikatakan oleh seorang pendeta.

Sebaliknya, jika Allah yang mengutus, lebih baik kita taat dan menyerah, karena Allah yang tahu manusia berasal dari debu tanah akan memberikan kuasa-Nya bekerja di dalam kita. Bagi anggota sidang jemaat yang digerakkan Roh Kudus untuk melayani, janganlah cepat-cepat menolak karena merasa tidak mampu. Hendaknya berdoa lebih dahulu untuk bertanya kepada Tuhan, dengar dan baca apa yang dikatakan Firman Tuhan. Kalau itu dari Tuhan, Dia pasti menyertai bahkan memberi kuasa agar kita berhasil! (bdng Roma 8:28)

Jika kita terpanggil, pastikan itu sesuai dengan rencana Allah, bukan rencana manusia atau ambisi pribadi. Salah satu buktinya, dia mau merendahkan diri dan menyerah untuk dipimpin Allah. Hasilnya, Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagai mereka yang mengasihi-Nya. Namun jika dia menolak panggilan Tuhan, hidupnya tidak akan tenang.

Mengasihi Tuhan berarti taat kepada perintah Tuhan dengan penuh penyerahan! (bdng Yoh. 14:15) Sikap inilah yang menarik hati Tuhan untuk turut bekerja dalam segala sesuatu agar mendatangkan kebaikan bagi orang tersebut. Namun hati-hati, ukuran Tuhan tentang ‘kebaikan’ sering kali bertentangan dengan ukuran manusia yang hanya terbatas pada perkara-perkara lahiriah saja. Ukuran Tuhan selalu mempunyai sasaran kekekalan! Dengan lain kata, Allah turut bekerja sama dengan syarat: (1) Terpanggil sesuai rencana Allah, (2)Taat, sebagai bukti mengasihi Allah, dan (3) Menyerah pada pimpinan Allah untuk kebaikan kita.

Dosa telah menyebabkan manusia diusir dari taman Eden sehingga manusia semakin jauh dari gambar Allah, tetapi Roma 8:29 menjelaskan maksud ‘mendatangkan kebaikan’ bagi kita, yaitu suatu proses penyucian hingga kita menjadi serupa dengan gambaran Anak Allah! Selanjutnya Roma 8:37 membuktikan penyertaan Allah yang Esa bagi kita yang taat kepada panggilan-Nya; Dia turut bekerja sehingga kita menjadi orang yang lebih dari pemenang, artinya pelayanan kita menjadi berkat bagi sesama – horizontal – dan kita sendiri diperkenan Allah – vertikal (1 Kor. 9:27)

Bukti kalau Allah turut bekerja dengan Paulus dan Silas adalah:

1. Paulus dan Silas tiba di Eropa, yaitu Makedonia suatu wilayah jajahan Roma, di dalamnya termasuk Tesalonika, Filipi dan Berea.

2. Wanita bernama Lidia, berprofesi sebagai pedagang kain ungu, dibaptis bersama dengan orang-orang seisi rumahnya.

3. Seorang hamba perempuan yang mempunyai roh tenung dan sudah membuat tuannya kaya dari profesi tersebut, dibebaskan dari roh tenung.

Pelayanan Paulus dan Silas berhasil di Filipi karena Allah turut bekerja sehingga mendatangkan kebaikan bagi orang lain, tetapi Allah juga mau mendatangkan kebaikan bagi Paulus dan Silas. Bagaimanakah bentuk ‘kebaikan’ yang diterima Paulus dan Silas?

Kisah Para Rasul 16:19-24 menyatakan: “Ketika tuan-tuan perempuan itu melihat bahwa harapan mereka akan mendapat penghasilan lenyap, mereka menangkap Paulus dan Silas lalu menyeret mereka ke pasar untuk menghadap penguasa… berkatalah mereka, katanya: ‘Orang-orang ini mengacau kota kita ini karena mereka orang Yahudi dan mereka mengajarkan adat istiadat yang kita sebagai orang Rum tidak boleh menerimanya atau menurutinya.’ Juga orang banyak bangkit menentang mereka. Lalu pembesar-pembesar kota itu menyuruh mengoyakkan pakaian dari tubuh mereka dan mendera mereka. Setelah mereka berkali-kali didera, mereka dilemparkan ke dalam penjara… kepala penjara memasukkan mereka ke ruang penjara paling tengah dan membelenggu kaki mereka dalam pasungan yang kuat.”

Paulus dan Silas taat kepada perintah Allah walau secara fisik mereka mengalami hal-hal yang menyakitkan. Kadang seseorang telah lama menjadi anggota gereja tetapi tidak mau meningkatkan rohaninya dengan menahbiskan diri dalam pelayanan karena khawatir terganggu keuangannya jika terus menerus ke gereja atau berpartisipasi untuk menyokong kegiatan-kegiatan gereja. Seyogianya, jika pekerjaan sekuler merosot, introspeksilah apakah pekerjaan tersebut sudah ditangani dengan baik, bukannya mempersalahkan gereja! Kalaupun kita, seizin Tuhan, mengalami hal-hal yang menyakitkan, pastilah itu untuk kebaikan kita, hanya sering kita belum melihat dan mengerti apa rencana Allah dibalik semuanya. Namun percayalah bahwa Firman Allah itu Ya dan Amin, semuanya demi kebaikan kita! (bdng 1 Pet. 2:19-21)

Paulus tetap konsisten melayani walau didera berkali-kali (1 kali = 39 pukulan dan langsung terkena kulit/daging setelah baju dikoyak). Secara manusia ia dianggap bodoh tetapi Paulus dengan rendah hati menerimanya, bahkan bangga mempunyai predikat itu. Paulus adalah hamba Tuhan yang dipakai luar biasa untuk memenangkan banyak jiwa; bahkan tulisannya sudah dikanonkan menjadi Firman Tuhan, menjadi berkat sampai selamanya. Demi kebaikan Paulus, Tuhan mengizinkan pukulan demi pukulan terjadi supaya ‘dagingnya’ tidak bersuara lagi tetapi rohnya menjadi semakin kuat!

Surat 2 Korintus 11:23-27 menuliskan: “Apakah mereka pelayan Kristus? --aku berkata seperti orang gila--aku lebih lagi! Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut. Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut. Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu. Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian...”

Hal tersebut penting dialami Paulus agar dia dapat merasakan keadaan orang lemah untuk dimenangkan. Namun hati-hatilah karena ada orang menggunakan ayat-ayat Alkitab – khususnya 1 Korintus 9:20-23 – untuk membenarkan perbuatannya dalam menuruti hawa nafsu daging. Untuk memenangkan jiwa seorang perampok, perlukah kita menjadi perampok?

Maksud sebenarnya adalah kita dapat merasakan kelemahan orang tersebut dan menolongnya, tetapi tetap menjaga diri supaya tidak ikut tercemar. Teladanilah Yesus (Ibr. 2:18 bdng 2 Kor. 11:29)! Dia berada di tengah-tengah orang berdosa bahkan dijamah wanita yang sudah 12 tahun menderita lelehan darah, tetapi Yesus tidak tercemar, sekalipun Dia cepat merasakan kelemahan orang yang ditolong-Nya!

Yunus yang tidak taat harus menderita fisik karena kesalahannya sendiri, tetapi Paulus yang taat ternyata juga mengalami pukulan demi pukulan. Ini seperti proses pembuatan kandil/pelita emas, yang mana 1 talenta (± 34 kg) emas dipanaskan, dipukul terus-menerus untuk dibentuk menjadi indah dan terangnya menjadi berkat bagi orang lain. Itu sebabnya tepat sekali jika Kisah Para Rasul 16 terkena Pelita Emas dalam susunan Tabernakel.

Pada waktu itu, orang Yahudi atau Filipi yang dijajah tidak ada hak untuk mendapat keadilan. Di lain pihak, Paulus sebagai warga Roma sebenarnya mempunyai hak untuk diadili tetapi dia tidak mempergunakan haknya karena yakin ia disertai Allah yang mengutus demi kebaikannya. Kita akan renungkan proses penyucian yang dialaminya berikut ini:

1. Penjara
Proses yang dahulu secara fisik dialami Paulus, pada zaman sekarang kita alami secara rohani (bdng 1 Pet 3:18-21) yaitu: roh, jiwa, dan pikiran manusia berpusat pada hati. Tuhan sudah menyediakan sarana melalui kematian dan kebangkitan Yesus dan DIA sanggup menjangkau sampai lubuk hati manusia paling dalam. Jangan mendengar Firman Tuhan namun tetap tidak mau taat, tidak bertobat dan lahir baru! Pribadi semacam ini, walau kelihatan rajin ke gereja bahkan melayani, mengasihi Allah hanya sebatas bibir saja tetapi rohnya terpenjara.

Waspadalah juga terhadap penjara dalam gereja! Dalam Lukas 21:10-12, kita melihat bahwa tanda akhir zaman yang sedang terjadi sekarang di dunia secara fisik – juga soal kerohanian – merupakan peringatan bagi manusia. Sekarang marak di gereja disajikan berbagai atraksi dan musik yang tidak berbeda dengan dunia, bahkan Firman Tuhan hanya menyinggung perkara-perkara lahiriah saja. Jika Firman Tuhan melulu dikaitkan dengan hal-hal horizontal, tanpa disadari gereja layaknya seperti penjara. Israel berbangga pada bait Allah yang secara fisik begitu megah, dibangun dari batu indah yang disusun atas batu indah lainnya selama 46 tahun, tetapi dihadapan Tuhan sama seperti penjara yang membuat manusia tetap tertahan di kerajaan dunia dan tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga (Lukas 21:5-6 bdng Yoh. 2:19-22).

Tuhan memberi solusi yaitu gereja harus berani merubah paradigmanya dan kembali menghargai Salib Kristus. Walaupun pengajaran Salib adalah kebodohan bagi dunia, bagi kita yang diselamatkan pengajaran ini merupakan kuasa Allah yang membebaskan manusia dari penjara dunia. Renungkan lebih dalam dua nas berikut:

a. Filipi 3:18-20 – Gereja harus mempunyai sasaran kekekalan! Kita memang mempunyai dwi kewarganegaraan tetapi salah satu harus dilepaskan.

b. Epesus 4:8-10 – Kalau kita tetap dalam penjara dunia, kita akan dibinasakan bersama dunia. Namun salib Kristus merupakan kuasa Allah yang melepaskan kita dari tawanan penjara dunia. Ingatlah bahwa gereja yang sesungguhnya tidak terbatas fisik, itu hanya sarana untuk mencapai gereja sesungguhnya itulah tubuh kita yang adalah bait Allah yang kudus.

2.Belenggu
Secara fisik Paulus dahulu dibelenggu, namun marilah kita merenungkan lebih jauh keadaan tersebut dengan pengalaman Yusuf dan mengambil makna rohaninya (Kej. 37-45 bdng Mzm. 105:18).

Yusuf sejak muda hidup suci, tidak suka dengan perbuatan jahat yang dilakukan oleh saudara-saudaranya. Dia dikasihi ayahnya dan dibuatkan jubah mahaindah. Hidup sucinya tetap dipertahankan walau dia sebagai orang bebas telah dijual oleh saudara-saudaranya kepada orang kafir sehingga menjadi budak yang hanya mempunyai kewajiban tetapi tidak mempunyai hak. Namun Potifar – tuannya – melihat bahwa Yusuf disertai Allah sehingga apa yang diperbuatnya berhasil dan dia diangkat menjadi kuasa atas rumah dan miliknya. Yusuf tetap menjaga kesucian, tidak tergiur oleh hal-hal bersifat duniawi – keinginan mata, daging dan sombong. Dia difitnah, dimasukkan ke penjara, dan dibelenggu tetapi dia tetap taat saat menderita karena kehendak Allah, akhirnya diangkat menjadi kuasa atas Mesir. Yusuf menjadi utusan Tuhan demi memelihara kehidupan Israel dan dunia (Kej 45:5). Mazmur 105:16-22 dengan jelas menyatakan bagaimana Allah turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi Yusuf; dia dijadikan lebih dari pemenang, pribadinya berkenan di hadapan Allah juga menjadi berkat bagi sesama.

3. Berdoa dan memuji Tuhan
Walau Israel sudah dibebaskan dari perbudakan Mesir, mereka memberontak kepada Tuhan saat kehausan dan minta dikembalikan menjadi budak di Mesir. Lain halnya dengan Paulus, sekalipun dalam keadaan fisik sangat menderita, ia masih dapat berdoa dan bernyanyi yang didengar oleh orang-orang hukuman lainnya (Kis. 16:25).

Yesus juga berdoa bahkan sampai tiga kali saat Dia akan menghadapi penangkapan, disiksa, dibelenggu bahkan akhirnya disalibkan sampai mati (isi doa-Nya: Mat. 26:39,42,44 bdng Luk. 22:43-44). Secara manusia, Yesus sebagai utusan Allah minta dibebaskan namun tetap menyerah kepada kehendak Allah. Saat itu Dia secara fisik tidak mampu menghadapi penderitaan sehingga peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah. Namun Allah turut bekerja dengan orang yang taat pada kehendak-Nya, dan seorang malaikat datang memberi kekuatan kepada Yesus.

Demikian pula doa Paulus sehingga Tuhan mengutus malaikat untuk membuka belenggu dan pintu penjara. Paulus tetap sadar bahwa Allah turut bekerja demi kebaikannya sehingga dia tidak lari melainkan menanti pimpinan Roh Kudus selanjutnya.

4. Pintu terbuka
Wahyu 3:7-13 mengungkapkan bahwa jemaat Filadelfia hanya memiliki kekuatan terbatas (= kecil) untuk taat kepada Firman tetapi mau menyerah kepada kehendak Allah, tidak menyangkal nama-Nya, dan tekun menanti kedatangan Tuhan. Alhasil Tuhan melindungi mereka saat menghadapi pencobaan yang akan datang menimpa dunia. Bagi jemaat Filadelfia, Tuhan mengirim malaikat-Nya; demikian pula kepada Yesus dan Paulus pada waktu itu. Pintu memang dibuka dan ada jalan keluar bagi mereka yang taat akan Firman Allah. Namun fakta-fakta tersebut masih bersifat jasmani.

Bagi kita – semua orang percaya – masih ada sasaran akhir yang akan kita capai. Kelak, seperti tercantum dalam Wahyu 4:1-2, pintu Surga terbuka bagi Paulus dan kita semua. Inilah yang dimaksud kebaikan bagi kita, yaitu sasaran kekekalan. Kita tidak ada kemampuan sedikit pun untuk sampai ke sana. Itu sebabnya Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk keselamatan kita maupun pelayanan kita bagi keselamatan orang lain. Paulus tetap menjadi terang bagi sesama sehingga kepala penjara dan keluarga menjadi sangat bahagia karena percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dan diselamatkan. Amin!

Rabu, 17 November 2010

Perbandingan Profil Samuel dan Saul

Kita sering mengagumi masa kanak-kanak dari orang-orang penting. Namun kita memperoleh sedikit informasi tentang masa kecil dari kebanyakan tokoh Alkitab, tidak demikian halnya dengan Samuel. Samuel hadir di bumi sebagai hasil jawaban doa Hana yang sungguh-sungguh memohonkan seorang anak.

Suatu kenyataan nama Samuel berasal dari bahasa Ibrani yang berarti ‘didengar Allah’.

Allah membentuk Samuel mulai dari awal. Seperti halnya Musa, Samuel terpanggil untuk memenuhi banyak peran yang berbeda-beda: hakim, imam, nabi, penasihat dan utusan Allah untuk titik balik sejarah Israel. Tuhan bekerja melalui Samuel karena dia sungguh-sungguh mau menjadi pelayan Tuhan.

Samuel menunjukkan bahwa siapa yang didapati Tuhan setia dalam perkara kecil akan dipercayakan untuk perkara yang lebih besar. Samuel tumbuh menjadi pembantu imam Eli di dalam Tabernakel sampai Tuhan menunjuk dia untuk tanggung jawab lainnya. Dan Samuel sangat maju karena dia dengar-dengaran terhadap petunjuk dari Allah.

Sering kali kita meminta Allah untuk mengatur hidup kita tanpa kita mau melepaskan tujuan yang kita gumulkan; kita meminta Tuhan menolong mendapatkan tujuan ke mana kita mau pergi. Langkah pertama untuk membetulkan sikap ini ialah mengembalikan tujuan dan control kehidupan kita kepada Tuhan. Kedua, melakukan apa yang dikehendaki Tuhan. Ketiga, mendengarkan lebih lanjut arahan Firman Tuhan sebagai peta Allah bagi kehidupan kita.

Kekuatan dan kecakapan Samuel

  1. Dipakai oleh Tuhan untuk membantu masa transisi Israel dari rakyat yang bebas diperintah oleh kesukuan menjadi suatu kerajaan
  2. Mengurapi dua raja Israel pertama
  3. Merupakan hakim terakhir dan sangat taat kepada Allah
  4. Terdaftar di ‘Aula Imam’ dalam kitab Ibrani 11
Kelemahan dan kesalahan Samuel

  1. ·Tidak mampu membimbing anak-anaknya ke dalam hubungan dekat dengan Allah
Pelajaran dari kehidupan Samuel

  1. ·Pentingnya apa yang dikerjakan oleh manusia berhubungan dengan hubungan dia dengan Allah
  2. Orang macam apa kita adalah lebih penting daripada apa yang dapat kita perbuat

Statistik demografi:

· Tempat: Efraim

· Pekerjaan: hakim, nabi, imam

· Keluarga: Ibu: Hana. Ayah: Elkana. Anak: Yoel, Abiya

· Sezaman dengan Eli, Saul dan Daud

Ayat-ayat kunci:

· 1 Samuel 3: 19, 20

S A U L
Kesan pertama dapat menipu, khususnya apabila kesan yang diciptakan dari penampilan yang bertolak belakang dengan kualitas dan kemampuan orang tersebut. Secara visual Saul mewakili sosok ideal seorang raja, tetapi karakternya cenderung bertentangan dengan perintah Allah. Selama pemerintahannya Saul menjadi sukses bila ia taat kepada Allah tetapi kegagalannya yang paling besar berasal dari tindakannya sendiri.

Saul memiliki bakat – penampilan, keberanian dan tindakan – untuk menjadi pemimpin yang baik. Bahkan kelemahannya masih dapat dipakai oleh Allah jika saja Saul menyadari hal itu dan menyerahkannya di dalam tangan Tuhan. Dari Saul kita belajar bahwa sementara kekuatan dan kemampuan

membuat kita berguna, kelemahan kitalah yang membuat kita dapat dipakai Tuhan. Ketrampilan dan talenta membuat kita menjadi alat tetapi kegagalan dan kelemahan mengingatkan kita perlunya Ahli seniman yang mengontrol hidup kita. Sudahkah Tuhan mengontrol hidup Anda?

Kekuatan dan kecakapan Saul

  1. Raja pertama yang ditunjuk oleh Tuhan
  2. Terkenal dengan kepribadiannya yang pemberani dan dermawan
  3. Tinggi tegap dengan penampilan elok
Kelemahan dan kesalahan Saul

  1. Kemampuan kepemimpinannya tidak cocok dengan harapan yang dibentuk oleh penampilannya
  2. Menurut sifat dasarnya, dia cenderung untuk kelewat batas
  3. Cemburu kepada Daud dan berusaha membunuhnya
  4. Secara rinci dia tidak taat kepada Tuhan dalam beberapa perkara
Pelajaran dari kehidupan Saul

  1. Tuhan menghendaki ketaatan dalam hati bukan tindakan ritual keagamaan belaka
  2. Ketaatan selalu melibatkan pengorbanan tetapi pengorbanan tidak selalu merupakan ketaatan
  3. Tuhan mau memakai kita dalam kekuatan dan kelemahan kita
  4. Kelemahan kita seharusnya mengingatkan akan kebutuhan kita kepada petunjuk dan pertolongan Tuhan
Statistik demografi

· Tempat: di tanah Benyamin

· Jabatan: raja bangsa Israel

· Keluarga: Ayah: Kish. Anak Laki-laki: Yonatan, Malkisua, Yiswi, Isyboset. Istri: Ahinoam. Anak Perempuan: Merab dan Mikhal

Ayat-ayat kunci

· 1 Samuel 15: 22, 23

Jumat, 20 Agustus 2010

Cara Menjadi Anak Yang Diberkati Allah

Tuhan Yesus memberikan suatu ketetapan bahwa syarat untuk dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga adalah manusia harus mengambil sikap menjadi seperti seorang anak kecil (Lukas 18:15-17, “...Sesungguhnya barang siapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.”)

Secara logika hal ini sangat sulit diwujudkan, bahkan mustahil! “Bagaimana mungkin orang yang sudah tua harus kembali menjadi anak kecil?” Pertanyaan serupa juga disampaikan oleh Nikodemus kepada Tuhan Yesus, tetapi dengan tegas Dia menjawab, “…sesungguhnya jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah….” (Yohanes 3:1-21) Tuhan Yesus tidak mau berkompromi dengan Nikodemus mengenai ketetapan ini.

Sangat sulit bagi kehidupan yang sudah tua untuk menerima ketetapan Tuhan Yesus ini. Mereka memiliki gengsi tinggi karena merasa dirinya berpengalaman – sudah banyak makan asam garam dunia. Bagaikan sebatang pohon tua yang mustahil diluruskan karena sudah telanjur bengkok, mereka tidak mau membuka hati untuk menerima Firman Tuhan ini! Sama seperti murid-murid Yesus, walaupun mereka selalu bersama Yesus, ternyata mereka tidak membuka hati untuk Firman-Nya sehingga mereka marah kepada anak-anak yang datang kepada-Nya. Mengapa marah? Karena mereka tidak dapat bersikap seperti anak-anak!

Saat mendengar Firman Tuhan, jangan kita hanya menggunakan otak tetapi mintalah kepada Tuhan untuk membuka akal budi kita supaya kita dapat menerima firman-Nya dengan iman dan hati. Bagi Allah tidak ada yang mustahil! Apakah iman terhadap firman ‘bagi Allah tidak ada yang mustahil’ hanya kita praktikkan saat menghadapi penyakit, masalah pekerjaan atau hal-hal lahiriah lainnya? Yakinlah bahwa dalam hal ‘menjadi anak-anak’ pun, kuasa Allah tetap sama!

Seorang anak – terutama bayi atau anak kecil – bergantung penuh pada orang tuanya! Kalau orang tua setia beribadah, anak-anaknya tentu dibawa setia beribadah juga. Namun dalam hal rohani sering kali kita melambatkan pekerjaan Allah di dalam hidup ini. Semestinya Allah mau menggendong dan menuntun kita, tetapi kita menolaknya karena kita tidak mau memosisikan diri sebagai anak yang bergantung sepenuhnya kepada Dia.

Alkitab mencontohkan satu kehidupan yang sudah tua tetapi dapat menempatkan diri sebagai seorang anak kecil. Mazmur 131:1-2, “Nyanyian ziarah Daud. TUHAN, aku tidak tinggi hati dan tidak memandang dengan sombong; aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku. Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku.”

Secara fisik tentunya Raja Daud sudah tua saat menulis Mazmur 131 ini, tetapi ia tidak malu menempatkan dirinya sebagai ‘anak yang baru disapih’. Raja Daud membuka hatinya, bergantung dan berharap sepenuhnya hanya kepada Allah. Itu sebabnya dia berseru kepada bangsa Israel, “Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel, dari sekarang sampai selama-lamanya!” (Mazmur 131:3 – berharap penuh kepada Tuhan seumur hidup)

Mungkin sekarang timbul pertanyaan dalam hati kita, “Mengapa saya membaca dan menuruti tulisan untuk bangsa Israel? Bukankah saya orang Indonesia yang tentu juga memiliki buku-buku filsafat sendiri?” Ingatlah, Alkitab ini Firman Allah! Allah menuntun bangsa Israel dan membuat mereka menjadi suatu sejarah besar. Suatu peristiwa yang bernubuatan kekal ini tentu sangat bermanfaat bagi kita!

Alkitab sendiri menegaskan dalam Roma 15:4-7, “Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci. Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu sesuai dengan kehendak Kristus Yesus sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus. Sebab itu terimalah satu akan yang lain sama seperti Kristus juga telah menerima kita untuk kemuliaan Allah”.

Ayat di atas menyatakan bahwa Kitab Suci orang Yahudi dahulu (Perjanjian Lama) – termasuk Mazmur 131 – bermanfaat memberi nasihat atau pelajaran agar kita dapat menyatu – bekerja sama – untuk keselamatan. Orang Yahudi sangat sulit menyatu dengan bangsa non Yahudi, bahkan cenderung merendahkan karena mereka mempunyai banyak alasan untuk berbangga atau menyombongkan diri, antara lain: menerima langsung 10 hukum Allah yang diwakili Musa, memiliki hukum Taurat yang begitu hebat, dan mempunyai Allah yang luar biasa.

Tetapi mengapa Tuhan meminta Paulus (Yahudi) menulis surat kepada orang Roma (non Yahudi)? Supaya Tuhan dapat juga menyelamatkan orang-orang yang bukan Yahudi (Roma 15:16). Petrus pun semula tidak mau berteman dengan bangsa kafir – non Yahudi – tetapi Tuhan mengatakan, “Petrus, berangkatlah bersama-sama dengan mereka, jangan bimbang, sebab Aku yang menyuruh mereka ke mari.” (Kisah Rasul 10:19-21,28-36). Alhasil: terwujudlah pertemuan dan persatuan dua kelompok, yaitu Yahudi (Petrus) dan Yunani (Kornelius).

Intinya adalah supaya kita dapat menyatu sama seperti Kristus (orang Yahudi secara lahiriah) mau menerima, menyatu dan menyelamatkan kita – bangsa Kafir.

Dari antara bangsa Yahudi yang begitu sombong (misal: Saul), ada pribadi Daud yang dipilih Tuhan. Mengapa Daud (= “yang dikasihi”) dipilih? Melalui Mazmur 131 kita mau belajar bagaimana sikap dan praktik hidup Daud sebagai orang yang dipilih Tuhan.

1. Rendah hati

“TUHAN, aku tidak tinggi hati, …”

Daud dipilih Tuhan menjadi raja Israel menggantikan Saul yang sombong karena Daud rendah hati. Setelah menjadi seorang raja, Daud tetap rendah hati. Sikap hati sangat menentukan! Kalau hati tidak beres, hal-hal lain menjadi tidak beres juga.

Amsal 4:20-22 mengungkapkan, “Hai anakku, perhatikanlah perkataanku, arahkanlah telingamu kepada ucapanku; …simpanlah itu di lubuk hatimu.” Jika kita menerima pemberian atau hadiah dari seseorang yang kita kasihi atau kagumi, pasti kita menyimpan hadiah itu dengan sebaik-baiknya di tempat yang sangat istimewa dan menjaganya dengan sungguh-sungguh.

Bagaimana sikap kita terhadap Firman Allah yang kita baca atau dengar? Apakah kita menghargai Firman Allah sebagai pemberian yang sangat berharga dari Allah yang mengasihi kita sehingga kita menjaga dan ‘menyimpan’nya di dalam hati dengan sungguh-sungguh? Firman Allah itu sangat luar biasa karena sanggup memberikan kehidupan, kesembuhan, ketenangan, kebahagiaan, kedamaian, bahkan keselamatan.

Jangan menyimpan Firman Allah di tempat yang tidak layak! Simpanlah Firman Allah yang sempurna itu di dalam lubuk hati kita dengan sebaik-baiknya! “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23)

Itu sebabnya kita harus memiliki ‘kerendahan hati’, karena hati yang ‘tinggi’ – som-bong – tidak dapat menyimpan Firman Allah yang rendah hati! Isilah hati hanya dengan firman Allah, jangan diisi dengan hal-hal lain seperti: kebencian, dendam, sakit hati, kekecewaan, dan sebagainya. Simpanlah firman Allah karena di dalam-Nya hanya ada kasih semata.

Daud berkata, “Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau.” (Mazmur 119:11) Daud sebagai seorang raja – pemimpin negara – harus menyimpan Firman Allah supaya ia tidak berdosa kepada Allah. Artinya, hati yang berisi Firman Allah mampu menghindarkan manusia dari perbuatan dosa. Mari berdoa buat para pemimpin kita supaya mereka menyimpan Firman Allah di dalam hatinya, karena tidak ada sesuatu apa pun di dunia ini yang mampu menolong dan menyelamatkan manusia selain firman Allah!

Apakah kehidupan Daud bersih dari dosa? Tidak! Daud banyak berbuat dosa bahkan sangat keji dan mengerikan, ia membunuh Uria dan merebut istrinya (2 Samuel 12:1-7). Namun Daud menyadari kesalahannya dan menulis, “Sembunyikanlah wajah-Mu terhadap dosaku, hapuskanlah segala kesalahanku! Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh! Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dariku!” (Mazmur 51:11-13) Sedalam itu Daud telah jatuh tetapi Tuhan mengangkatnya kembali. Mengapa?

Karena Daud bersikap rendah hati dan mau ditegur Tuhan!

Daud memohon pembaharuan (pemulihan) supaya hatinya yang sudah hancur kembali merasakan sukacita. Hanya Firman Allah yang dapat memulihkan dan mengembalikan sukacita dalam hati. Mulut-bibir (perkataan) seorang suami yang hatinya menyimpan Firman Allah dapat membangun kembali istri yang sudah patah hati, mulut istri yang menyimpan Firman Allah akan mengangkat suami yang jatuh, dan kata-kata ayah-ibu yang menyimpan Firman Allah dapat membangkitkan anak-anak yang putus asa (Epesus 6:4). Pastikan kita menyimpan Firman Allah di dalam hati agar dapat menjadi berkat bagi sekeliling kita.

2. Tidak memandang dengan sombong

“TUHAN,… aku… tidak memandang dengan sombong;…”

Mungkin kita merasa aneh saat membaca ayat ini dan bertanya di dalam hati, “Apa artinya? Mungkinkah mata– jasmani – dapat bersikap sombong?” Alkitab kembali menyatakannya, “Ada keturunan yang mengutuki ayahnya dan tidak memberkati ibunya. Ada keturunan yang menganggap dirinya tahir tetapi belum dibasuh dari kotorannya sendiri. Ada keturunan berpandangan angkuh yang terangkat kelopak matanya. Ada keturunan yang giginya adalah pedang, yang gigi geliginya adalah pisau untuk memakan habis dari bumi orang-orang yang tertindas, orang-orang yang miskin di antara manusia.” (Amsal 30:11-14)

Melalui hikmat yang diberikan Tuhan kepada Raja Salomo, jelas sekali ditunjuk adanya keturunan yang matanya sombong. Ini merupakan ciri-ciri keturunan manusia. Jangan kita mau menjadi seperti mereka, kita harus berubah menjadi keturunan Allah. Barang siapa percaya kepada Tuhan Yesus, ia mendapat hak untuk menjadi anak-anak Allah (Yohanes 1:12).

Selanjutnya, oleh pimpinan Roh Kudus di dalam hidup ini, kita mampu memanggil Allah dengan sebutan “Abba, Bapa”, suatu sebutan yang mengandung sikap penghormatan kepada Allah (Roma 8:15).

Warning: Allah – sebagai Bapa – sangat menyesal dan kecewa terhadap bangsa Israel – anak sulung-Nya – karena tidak menghormati-Nya (Maleakhi 1:6).

Bersyukurlah, oleh kasih pengurbanan Tuhan Yesus Kristus di kayu salib, kita – bangsa kafir yang tidak mengenal Allah dan sedikit pun tidak ada pengharapan keselamatan – telah mendapat kesempatan menjadi ‘anak-anak Allah’, dan melalui pimpinan Roh Kudus kita dimampukan untuk memanggil-Nya “Ya Abba, ya Bapa.” Puji Tuhan!

Tuhan Yesus sebagai ‘Anak Allah’ telah memberikan teladan ‘sikap rendah hati’. Dia yang adalah Tuhan, rela merendahkan diri menjadi manusia, seorang hamba, bahkan mati di atas kayu salib untuk menebus kita. Jika kita mau disebut ‘anak-anak Allah’, belajarlah rendah hati seperti Tuhan Yesus! (bdg Matius 11:29)

3. Jiwa menjadi tenang

“TUHAN, … aku telah menenangkan … jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, …”

a. Puas minum air susu murni – Firman Allah

Di dalam bahasa Mandarin ada dua kata, yaitu: “tenang” dan “menenangkan” yang berarti “sama level – sama derajat.” Sangat indah jika di dalam hubungan sesama anggota tubuh Kristus (suami-istri, orang tua-anak, gembala-jemaat, sesama orang percaya, teman-teman di sekolah, dsb.) didasari sikap yang sama-sama ‘merendahkan diri’.

Bukankah Bapa kita satu? Tidak mungkin jika masing-masing pribadi yang sama-sama dipenuhi Roh Kudus dan menghormati Bapa yang satu ini saling bertengkar! Kalau kita meletakkan seorang bayi di satu tempat yang sama dengan bayi lainnya, tidak mungkin mereka bertengkar. Mengapa? Sebab bayi-bayi tersebut memiliki ‘kerendahan hati’ yang sama. Hati yang tenang tidak akan membeda-bedakan tetapi membuat level yang sama – meratakan.

Rindukah kita memiliki ketenangan hidup seperti Daud? Contohlah sikap Daud: kita harus puas minum susu murni – Firman Allah – sehingga dapat merendahkan diri satu dengan yang lainnya, menyadari bahwa kita sama levelnya, mantan orang berdosa yang telah diangkat menjadi anak-anak Allah. Buanglah semua kesombongan diri, belajarlah saling menghargai sama seperti Allah yang tidak pernah membeda-bedakan karena Dia mencintai kita semua.

Rasul Paulus merupakan contoh kehidupan yang tidak lagi membeda-bedakan. Saat Paulus – orang Yahudi, sekaligus Parisi – bertobat, ia dapat menyamakan level dirinya kepada siapa ia bergaul. Rasul Paulus berkata, “…bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi,… Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat,… Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus,… Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah,…” Untuk apa? “Supaya aku dapat memenangkan beberapa orang dari antara mereka.” (1 Korintus 9:20-23)


Hati Paulus sudah diubah, hatinya penuh dan dipuaskan oleh Firman Allah. Proses keubahannya bukan hanya sesaat melainkan sepanjang hidupnya. Yesus yang ada di dalam hatinya terus menerus mengubahnya dari hari ke hari sehingga ia suka bergaul dengan semua lapisan atau golongan masyarakat. Paulus paling banyak menulis, “…tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, …tiada orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.“ (Galatia 3:28; Kolose 3:11) Mengapa Paulus dapat menulis itu semua? Karena hati dan jiwanya tenang, Firman Allah membuatnya tenang, tidak membeda-bedakan – sama level. Puji Tuhan!



b. Rela disapih untuk bertumbuh



Seorang anak yang disapih berarti dia mulai belajar makan untuk pertumbuhannya. Mungkin ia merasa sedikit menderita, kurang nyaman, tetapi Daud rela masuk dalam pengalaman ini. Ia tetap tenang, tidak mengeluh, tidak mengomel, keep silent. Mau tenang seperti Daud? Makan Firman Allah sampai kenyang!



Yesus adalah teladan sempurna! Saat Dia di salib, Dia tetap tenang – diam; saat diadili, dituduh dari kanan-kiri, Dia tetap diam. Keep silent mengandung arti dungu, bodoh, stupid. Yesus dianggap bodoh karena selalu diam, tidak membela diri, tetapi Rasul Paulus – kehidupan yang sudah diubahkan – berkata, “Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya daripada manusia … Apa yang dianggap bodoh oleh manusia dipilih Allah untuk mempermalukan orang-orang berhikmat,...” (1 Korintus 1:25-29). Mengapa Yesus diam? Karena Dia bukan anak duniawi, Dia anak Allah!



Mari kita belajar diam. Suami diam – tidak banyak menuntut, istri diam – tidak banyak mengomel, tetap tenang seperti Daud, seperti Yesus, supaya posisi kita sebagai anak tetap terpelihara.



Apakah kita mengalami penderitaan? Kurang dihargai sesama anggota gereja? Kurang mendapat ‘perhatian’ rekan-rekan kita? Berbagai macam perasaan yang kurang enak muncul di hati kita? Buanglah semua itu, milikilah janji Allah di dalam Roma 8:12-17, “… jika kita adalah anak, kita juga adalah ahli waris, maksudnya adalah orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” Tubuh boleh mengalami penderitaan tetapi hati ini adalah ‘hati anak Allah, hati yang seperti Yesus, hati yang rela berkorban.’



Mari kita berkomitmen untuk bersikap seperti Daud dan mempraktikkan dalam keseharian hidup agar pengalaman Daud menjadi pengalaman kita juga. Jadilah anak-anak yang diberkati Tuhan.



Amin!